pintu doraemon
Pintu kemana saja akan membawaku
Menjajaki sudut-sudut baru dunia
Menatap langit warna-warni dari berbagai jendela
Menyeberangi jembatan-jembatan panjang ke
sana
Satu membuka dan lain menutup
Menyapa sambil lalu
Dan bersiul penuh arti
Kemenangan memang ada di depan mata
Seperti hendak menyambar aroma muslihat si kembar
Sampai-sampai sendiri terjengkang diam
Pintu jangan sembarang dibuka
Tangan kecil menggapai-gapai hendak mencoba
Hanya kerlingan sang Donna yang membahana
Menyapu semua debu berjumputan
Aku lihat di situ
Ia menari-nari penuh arti
Padahal diam-diam ingin mati
Aku dengar disana
Kemarin ia bersungut-sungut minta roti
Padahal sesumbar daging diulur-ulur
“Aku hanya mengoceh tak karuan jadinya,” katanya
“Siapa?”, lanjutku
“Raksasa hijau pupus berjenggot merah itu pelit,”
Dia lalu berjingkat pergi
Satu-satu jejaknya tertiup angin
Saat kutanya hendak kemana dia hanya mengangkat satu tangan
“Bicara sama tangan,” ujarnya
Nah lho? Agnes Monica?
“Hahahahaha, “ tertawanya keras sekali
“Tanganku yang akan menjawab, maksudku,” lanjutnya
Pelan-pelan tangan itu berbicara,
“Ke mana saja ada pintu terbuka, sayang. Kesana lah aku akan
pergi,”
“Dimana saja ada jendela untuk kutatap dan jembatan untuk
kuseberangi.”
Lalu tubuhnya perlahan mengecil dan mengecil dan mengecil
lalu hilang
“Harapan, kesempatan, dan jalan, kesanalah ia berjalan,”
bisik Sang Raksasa Hijau Pupus berjanggut Merah yang pelit.